Senin, 26 Maret 2012

SPM : ORGANIZATIONAL BEHAVIOR


PENGERTIAN
  • ORGANISASI MERUPAKAN SEKELOMPOK MANUSIA YANG BERSERIKAT UNTUK MENCAPAI TUJUAN BERSAMA, YANG TERDIRI DARI KOMPONEN MANUSIA, PEKERJAAN, DAN LINGKUNGAN

  • DALAM PENGENDALIAN MANAJEMEN, PERILAKU ORGANISASI MERUPAKAN HAL KRUSIAL UNTUK DAPAT MEMAHAMI, MENJELASKAN, MEMPERKIRAKAN DAN MEMPENGARUHI/MENGUBAH PERILAKU MANUSIA DI ORGANISASI.

PENGERTIAN DI ATAS MENGANDUNG TIGA UNSUR :
  1. PERILAKU ORGANISASI MENCERMATI TINGKAH LAKU YANG KASAT MATA, SEPERTI DISKUSI DENGAN TEMAN KERJA, DLL.
  2. PERILAKU ORGANISASI MEMPELAJARI TINGKAH LAKU MANUSIA, BAIK SEBAGAI INDIVIDU MAUPUN SEBAGAI ANGGOTA KELOMPOK ORGANISASI
  3. PERILAKU ORGANISASI JUGA MENGANALISA PERILAKU KELOMPOK DAN ORGANISASI ITU SENDIRI

JENIS – JENIS ORGANISASI
  • STRATEGI PERUSAHAAN UNTUK MENCAPAI TUJUANNYA SANGAT MEMPENGARUHI BENTUK DARI STRUKTUR ORGANISASINYA.
  • SETIDAKNYA ADA 3 KATEGORI UMUM BENTUK STRUKTUR ORGANISASI :
  1. STRUKTUR FUNGSIONAL
  2. STRUKTUR UNIT BISNIS
  3. STRUKTUR MATRIKS

         STRUKTUR FUNGSIONAL
SETIAP MANAJER BERTANGGUNGJAWAB PADA FUNGSI MASING – MASING YANG TELAH DISPESIALISASIKAN SEPERTI BAGIAN PRODUKSI DAN PEMASARAN

         STRUKTUR UNIT BISNIS
SETIAP MANAJER BERTANGGUNGJAWAB PADA AKTIVITAS MASING – MASING DARI UNIT BISNIS, DAN UNIT BISNIS BERFUNGSI SEBAGAI BAGIAN YANG SEMI INDEPENDEN DARI PERUSAHAAN

         STRUKTUR MATRIKS
UNIT – UNIT FUNGSIONAL MEMILIKI TANGGUNG JAWAB RANGKAP. MANAJER A DAPAT MENANGANI PEKERJAAN MANAJER B, DAN SEBALIKNYA


MOTIVASI
  • MERUPAKAN BAGIAN TIDAK KASAT MATA YANG TERCERMIN DALAM PERILAKU ORGANISASI TERMASUK JUGA KEMAUAN UNTUK MELAKUKAN TINGKAT UPAYA YANG TINGGI KEARAH TUJUAN ORGANISASI.
  • DENGAN DEMIKIAN MOTIVASI DALAM SPM MERUPAKAN BAGIAN INTEGRAL DALAM UPAYA MENGOPTIMALKAN PENGENDALIAN MANAJEMEN SUATU ORGANISASI.

TEORI MOTIVASI AWAL
TEORI HIERARKI KEBUTUHAN (ABRAHAM MASLOW)
  1. KEBUTUHAN FISIOLOGIS, SEPERTI PANGAN, SANDANG, TEMPAT TINGGAL
  2. KEBUTUHAN ATAS JAMINAN KEAMANAN, SEPERTI TERLINDUNGI DARI RESIKO JASMANI DAN ROHANI
  3. KEBUTUHAN SOSIAL, SEPERTI KELUARGA, SAHABAT
  4. KEBUTUHAN HARGA DIRI, DISEGANI, DIAKUI, DIHORMATI
  5. KEBUTUHAN AKTUALISASI DIRI, SEPERTI PRESTASI, KARIER, TANGGUNGJAWAB, KEPUASAN DIRI.

TEORI X DAN Y (DOUGLAS Mc. GREGOR)
MANAJER YANG MEMILIKI KATEGORI  X (KURANG BAIK)
  1. KARYAWAN PADA DASARNYA TIDAK MENYUKAI PEKERJAAN DAN SEDAPAT MUNGKIN MENGHINDARINYA.
  2. KARYAWAN DITEKAN, DIMONITOR, DIANCAM SANKSI AGAR BEKERJA UNTUK MENCAPAI TUJUAN
  3. KARYAWAN TIDAK MAU BERTANGGUNG JAWAB DAN HANYA MAU MELAKSANAKAN PERINTAH SAJA.
  4. KARYAWAN MEMENTINGKAN JAMINAN KEPASTIAN KERJA DAN TIDAK MEMPUNYAI AMBISI.

MANAJER YANG DIKATEGORIKAN  Y (BAIK)
  1. KARYAWAN BISA MEMANDANG KERJA ITU SANGAT RILEKS
  2. KARYAWAN SADAR AKAN TUGASNYA DAN TIDAK BERTINDAK SEMAUNYA
  3. UMUMNYA KARYAWAN BISA MENERIMA, BAHKAN MENCARI TANGGUNGJAWAB, SEPERTI MENERIMA BILA DIPROMOSIKAN
  4. KARYAWAN SELALU DIBERIKAN KESEMPATAN UNTUK BELAJAR SEHINGGA DAPAT MENGAKTUALISASIKAN DIRI

MOTIVASI KONTEMPORER
  1. TEORI EXISTENCE, RELATEDNESS, GROWTH (CLAYTON ALDERFER)
     a. EXISTENCE, BERKAITAN DENGAN
         PERSYARATAN KEBERADAAN DASAR
         MANUSIA, MISAL PANGAN, SANDANG
         KEAMANAN
     b. RELATEDNESS, BERKAITAN DENGAN
         INTERAKSI SOSIAL, STATUS ATAU
         HARMONISASI HUBUNGAN ANTAR PRIBADI
     c. GROWTH, BERKAITAN DENGAN PENGEMBANGAN
         DIRI, BERPRESTASI DAN BERTANGGUNGJAWAB

  1. TEORI EVALUASI KOGNITIF
TEORI INI MENYATAKAN BAHWA PEMBERIAN IMBALAN EKSTRINSIK, UNTUK PERILAKU KERJA YANG SEBELUMNYA MENDAPATKAN IMBALAN INTRINSIK JUSTRU CENDERUNG MENURUNKAN MOTIVASI SECARA KESELURUHAN.

TEORI SIFAT – SIFAT TUGAS
TEORI INI BERUPAYA UNTUK MENGENALI KARAKTERISTIK TUGAS DARI SETIAP PEKERJAAN, BAGAIMANA SIFAT – SIFAT TERSEBUT DIKOMBINASIKAN UNTUK MEMBENTUK MASING – MASING TUGAS DAN HUBUNGANNYA DENGAN MOTIVASI, KEPUASAN SERTA PRESTASI KARYAWAN

ADA TIGA TEORI SIFAT – SIFAT TUGAS :
  1. SIFAT TUGAS YANG DIBUTUHKAN (TURNER DAN LAWRENCE)
TEORI INI MENILAI DAMPAK KOMPLEKSITAS TUGAS ATAS TINGKAT               KEPUASAN DAN KEHADIRAN.
HAL INI MENYANGKUT ENAM SIFAT TUGAS YAITU ; VARIASI, LINGKUP KEWENANGAN, TANGGUNG JAWAB, PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN, INTERAKSI SOSIAL (WAJIB DAN OPTIMAL)
  1. MODEL SIFAT – SIFAT PEKERJAAN (HACKMAN DAN OLDHAM)
MENURUT MODEL SIFAT – SIFAT PEKERJAAN, SETIAP PEKERJAAN DAPAT DIJELASKAN MENURUT 5 DIMENSI
      a. VARIASI KETERAMPILAN, DERAJAT VARIASI
          KEGIATAN YANG DIBUTUHKAN PEKERJAAN
  1. IDENTITAS TUGAS, DERAJAT PENYELESAIAN MENYELURUH DAN BAGIAN KERJA YANG DIPERLUKAN PEKERJAAN
  2. PENTINGNYA TUGAS, DERAJAT DAMPAK PEKERJAAN ATAS KERJA ORANG LAIN
  3. OTONOMI, DERAJAT KEBEBASAN YANG DIBERIKAN PEKERJAAN BAGI INDIVIDU DALAM PENJADWALAN KERJA DAN DALAM PENENTUAN PROSEDUR YANG DIGUNAKAN UNTUK MELAKSANAKANNYA
  4. UMPAN BALIK, DERAJAT PELAKSANAAN KEGIATAN KERJA BAGI INDIVIDU, UNTUK MEMPEROLEH INFORMASI LANGSUNG DAN JELAS TENTANG EFEKTIVITAS PRESTASINYA.

MODEL PENGOLAHAN INFORMASI SOSIAL
  • MODEL INI MENYATAKAN BAHWA SIKAP DAN PERILAKU KARYAWAN MERUPAKAN REAKSI ATAS TANDA – TANDA SOSIAL YANG MEREKA TERIMA DARI LINGKUNGAN YANG MEMILIKI HUBUNGAN SEPERTI REKAN/KOLEGA, ATASAN, ATAU KLIEN.



VISI DAN MISI
VISI, MERUPAKAN WAWASAN LUAS KE MASA DEPAN DARI MANAJEMEN DAN KONDISI IDEAL YANG HENDAK DICAPAI PERUSAHAAN DI MASA MENDATANG

MISI, PERNYATAAN DAN KEGIATAN ATAS WAWASAN LUAS MANAJEMEN YANG HENDAK DICAPAI, DAN BERMANFAAT UNTUK MEMBERIKAN PEDOMAN KEPADA MANAJEMEN DALAM MEMUSATKAN KEGIATANNYA.

PERBEDAAN SUBTANTIF VISI DAN MISI
VISI
  1. DICIPTAKAN MELALUI PERMUFAKATAN/KONSESUS
  2. MEMBERIKAN PANDANGAN ATAS SESUATU YANG TERBAIK DI MASA YANG AKAN DATANG
  3. MEMPENGARUHI ORANG – ORANG UNTUK MENUJU KE MISI
  4. TANPA KETERBATASAN DIMENSI WAKTU

MISI
  1. MENGEJAWANTAHKAN ALASAN DAN KEBERADAAN ORGANISASI
  2. TIDAK SELALU MENCERMINKAN SUATU KINERJA KENDATI ADA DASAR PENGALOKASIAN SUMBER DAYA DAN PENETAPAN TUJUAN
  3. TANPA DIMENSI WAKTU ATAU TOLOK UKUR TERTENTU
  4. MENGEJAWANTAHKAN KEGIATAN USAHA YANG SEDANG DILAKSANAKAN DAN YANG AKAN DIUPAYAKAN, BAIK MENYANGKUT PRODUK, KONSUMEN MAUPUN TARGET MARKET-NYA

PERUMUSAN VISI DAN MISI
  • PERUMUSAN VISI DAN MISI BISA DIUPAYAKAN DALAM SUATU TIM KERJA YANG DIANGGAP REPRESENTATIF (MEMILIKI NILAI KEMAMPUAN UNTUK MERUMUSKAN VISI DAN MISI).
  • BIASANYA ANGGOTANYA TIDAK LEBIH DARI 8 ORANG, AGAR KERJANYA DAPAT LEBIH TAKTIS.

VISI DAN MISI BANK INDONESIA
VISI
“MEWUJUDKAN BANK INDONESIA SEBAGAI LEMBAGA BANK SENTRAL TERPERCAYA DAN DISEGANI”

MISI
“MENCAPAI DAN MEMELIHARA KESTABILAN MONETER UNTUK MEWUJUDKAN KESTABILAN NILAI RUPIAH MELALUI PENETAPAN DAN PELAKSANAAN TUGAS SECARA AKUNTABEL, TRANSPARAN, DAN DENGAN INTEGRITAS YANG TINGGI”



KIAT – KIAT MENYUSUN VISI DAN MISI
  1. CURAH PENDAPAT
MERUPAKAN METODE DIMANA SETIAP ANGGOTA DIHARAPKAN MEMBERIKAN PENDAPATNYA MASING.
HAL INI EFEKTIF UNTUK MENGHASILKAN BANYAK IDE DAN PENJABARAN IDE

  1. MENYELEKSI IDE – IDE YANG TERKUMPUL
GAGASAN – GAGASAN YANG BERAGAM HARUS DISELEKSI AGAR RELEVAN DENGAN VISI DAN MISI YANG DICANANGKAN, DIHARAPKAN MEMBERIKAN PERSEPSI YANG LEBIH RINCI TENTANG KRONOLOGI/URUTAN
  1. MELAKUKAN EVALUASI TERHADAP ALTERNATIF – ALTERNATIF YANG ADA
  2. MENDAPATKAN PERSETUJUAN DARI MANAJEMEN PUNCAK

TUJUAN
TUJUAN MERUPAKAN PERNYATAAN BERMAKNA KEINGINAN YANG DIJADIKAN PEDOMAN MANAJEMEN PUNCAK PERUSAHAAN UNTUK MERAIH HASIL TERTENTU ATAS KEGIATAN YANG DILAKUKAN DALAM DIMENSI WAKTU TERTENTU.

KARAKTERISTIK TUJUAN
         SESUAI (SUITABLE), TUJUAN BISA SELARAS DENGAN VISI DAN MISI
         BERDIMENSI WAKTU (MEASURABLE TIME), HARUS KONKRET DAN BISA DIANTISIPASI KAPAN TERJADINYA
         LAYAK (FEASIBLE), HENDAKNYA BERUPA SUATU TEKAD YANG BISA DIWUJUDKAN
         LEWUS (FLEXSIBLE), SENANTIASA  BISA DISESUAIKAN ATAU PEKA TERHADAP PERUBAHAN SITUASI DAN KONDISI
         BISA DIPAHAMI (UNDERSTANDABLE), HARUS MUDAH DIPAHAMI

SASARAN
SASARAN MERUPAKAN PERNYATAAN YANG DITETAPKAN OLEH MANAJEMEN PUNCAK UNTUK MENENTUKAN ARAH ORGANISASI DALAM JANGKA PANJANG

KARAKTERISTIK SASARAN
  1. MERUPAKAN CITRA IDEAL YANG HENDAK DICAPAI DI MASA MENDATANG TANPA DIMENSI WAKTU SPESIFIK
  2. MENGARAHKAN PEMBUATAN KEPUTUSAN DAN KEGIATAN KONKRET YANG RASIONAL DALAM AKTIVITAS KESEHARIAN
  3. TIDAK HARUS DIKAITKAN DENGAN KINERJA YANG BISA DIKUANTIFIKASI

Tidak ada komentar: