Sabtu, 25 Februari 2012

TEORI AKUNTANSI : STRUKTUR TEORI AKUNTANSI

    Pendekatan dan metodologi apa pun yang digunakan dalam penyusunan teori akuntansi, rerangka acuan yang dihasilkan didasarkan pada serangkaian elemen dan hubungan yang mengatur pengembangan teknik akuntansi.  Struktur teori akuntansi terdiri dari beberapa elemen-elemen berikut ini :
  1. Pernyataan Tujuan Laporan Keuangan
  2. Pernyataan postulat dan konsep teoritis akuntansi yang terkait dengan asumsi-asumsi lingkungan dan sifat unit akuntansi. Postulat dan konsep teoritis diturunkan dari pernyataan tujuan.
  3. Pernyataan tentang prinsip-prinsip dasar yang didasarkan pada postulat dan konsep teoritis .
  4. Batang tubuh teknik-teknik akuntansi yang diturunkan dari prinsip-prinsip akuntansi.

1. TUJUAN LAPORAN KEUANGAN

a. FASB
Tujuan Pelaporan Keuangan menurut konsepsi FASB yang disusun atas dasar kondisi lingkungan ekonomi sosial di Amerika :
  1. Memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya dan bermanfaat bagi investor dan kreditur untuk dasar pengambilan keputusan investasi dan pemberian keputusan .
  2. Memberikan informasi posisi keuangan perusahaan dengan menunjukkan sumber-sumber ekonomi (kekayaan) perusahaan serta asal kekayaan tersebut (siapa pihak yang mempunyai hak atas atas kekayaan tersebut)
  3. Memberikan informasi keuangan yang dapat menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (earning power)
  4. Memberikan informasi yang dapat menunjukkan kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang-hutangnya.
  5. Memberikan informasi keuangan yang dapat menunjukkan sumber-sumber pembiayaan perusahaan.
  6. Memberikan informasi yang dapat membantu para pemakai dalam meramalkan aliran kas masuk ke perusahaan.

Karakteristik Kualitatif Informasi Akuntansi
FASB menerbitkan Statement of Accounting Concept No.2 “KarakteristikKualitatif Informasi Akuntansi”, yang menyediakan kreteria untuk memilih antara :
  1. Metode akuntansi alternative dan pelaporan, atau
  2. Permintaan akan pengungkapan

Secara mendasar criteria mengindikasikan mana informasi yang lebih baik (lebih berguna) untuk pembuatan keputusan.  Karakteristik di pandang sebagai hirarki.  Kegunaan untuk pembuatan keputusan disajikan sebagai kualitas informasi yang paling penting.  Dalam kaitannya dengan ini informasi, relevansi dan reliabilitas merupakan dua kualitas primer, Komparabilitas dan konsistensi disajikan dengan kualitas sekunder dan interaktif.  Terakhir, konsep pertimbangan cost benefit dan materialitas diakui secara berturut-turut, sebagai batasan pervasive dan batas untuk pengakuan.  Dapat digambarkan sebagai berikut :
Relevansi informasi harus terkait dengan atau berguna dalam kaitannya dengan tindakan yang didesaian untuk memfasilitasi atau menghasilkan informasi yang ingin dihasilkan.
  • Nilai Prediksi. Informasi yang dihasilkan dapat membantu investor, kreditor dan pemakai lainnya mengevaluasi kejadian masa lalu, sekarang dan masa mendatang.
  • Nilai umpan balik. Selain agar informasi menjadi relevan, informasi harus memiliki nilai prediksi dan umpan balik, dan pada saat yang sama harus disampaikan dengan tepat waktu.
  • Tepat Waktu. Informasi juga harus tersedia untuk membuat keputusan sebelum kehilangan kapasitas dalam mempengaruhi keputusan.

Rentabilitas  adalah kualitas yang memungkinkan pengguna data bergantung padanya dengan penuh keyakinan sebagai penyajian apa yang seharusnya disajikan.
  • Dapat diverifiaksi adalah atribut yang memungkinkan induvidu berkualitas yang bekerja secara independent satu sama lain menggambarkan ukuran yang secara mendasar sama atau menyimpulkan suatu pengujian dari bukti, data atau catatan yang sama.
  • Penyajian yang jujur. Maka informasi bebas dari bias pengukuran dan pengukur.
  • Netralitas adalah informasi yang bebas dari bias menuju pencapaian hasil yang diinginkan.
  • Komparabilitas dan Konsistensi adalah penggunaan metode yang sama sepanjang waktu oleh satu perusahaan.

Pertimbangan manfaat biaya diakui sebagai batasan pervasive, informasi akuntansi keuangan akan dicari jika manfaat yang diperoleh dari informasi tersebut melebihi biayanya.
Materialitas pernyataan atas kepentingan relative, informasi mempunyai dampak signifikan atau material terhadap keputusan atau tidak.

b. APB Statement No.4
Tujuaan khusus laporan keuangan adalah menyajikan secara wajir dan sesuai prinsip akuntansi berterima umum, posisi keuangan, hasil operasi, dan perubahan lain dalam posisi keuangan.
Tujuan umum laporan keuangan adalah sebagai berikut:
  1. Menyediakan informasi yang dapat dipercaya tentang sumber daya ekonomis dan kewajiban suatu usaha binis dengan tujuan untuk :
·        Mengevaluasi kekuatan dan kelemahan
·        Menunjukkan pendanaan dan investasi
·        Mengevaluasi kemampuan perusahaan memenuhi komitmen
·        Menunjukkan basis sumber daya untuk pertumbuhan
2.    Menyediakan informasi yang dapat dipercaya tentang perubahan sumber daya bersih sebagai hasil dari aktivitas-aktivitas perusahaan yang menghasilkan profit dengan tujuan untuk :
·        Menunjukkan tingkat kembalian dividen harapan bagi investor.
·        Menunjukkan kemampuan operasi untuk membayar kreditor dan pemasok, menyediakan pekerjaan bagi karyawan, membayar pajak dan menghasilkan dana untuk ekspansi.
·        Menyediakan informasi keuangan bagi manajemen untuk perencanaan dan pengendalian.
·        Menunjukkan profitabilitas jangka panjang
3.    Menyediakan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk mengestimasi earning potensial perusahaan :
4.    Menyediakan informasi lain yang dihasilkan tentang perubahan sumber daya ekonomi dan kewajiban.
5.    Mengungkapkan informasi lain yang relevan dengan kebutuhan pemakai.

Tujuan Kualitatif akuntansi keuangan adalah sebagai berikut :
  • Relevan, memilih informsi yang paling mungkin untuk membantu pemakai dalam pembuatan keputusan ekonomi .
  • Dapat dipahami selain harus jelas informasi yang dipilih, juga harus dapat dipakai pemakai
  • Dapat diuji kebarannya , hasil-hasil akuntansi dibenarkan oleh ukuran-ukuran yang independent, menggunakan metode pengukuran yang sama.
  • Netral. Informasi akuntansi diarahkan pada kebutuhan umum pemakai dan bukan kebutuhan khusus pemakai tertentu.
  • Tepat Waktu. Berarti mengkomunikasikan informasi se-awal mungkin untuk menghindari dari keterlambatanpembuatan keputusan ekonomi.
  • Dapat Diperbandingkan. Perbedaan-perbedaan seharusnya tidak mengakibtakan perlakuan akuntansi yang berbeda.
  • Kelengkapan. Semua informasi yang memenuhi persyaratan tujuan-tujuan kualitatif lain harus dilaporakan.

c. Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) 1984
Tujuan Laporan Keuangan :
  1. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai aktiva dan kewajiban serta modal suatu perusahaan.
  2. Untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan dalam aktiva neto (aktiva dikurangi kewajiban) suatu perusahaan yang timbul dari kegiatan usaha dalam rangka memperoleh laba.
  3. Untuk memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai laporan di dalam menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
  4. Untuk memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan dalam aktiva dan kewajiban suatu perusahaan, seperti informasi mengenai aktivitas pembiayaan dan investasi.
  5. Untuk mengungkapkan sejauh mungkin informasi lain yang berhubungan dengan laporan keuangan yang relevan untuk kebuthan pemakai laporan, seperti informasi mengenai kebijakan akuntansi yang dianut perusahaan.

Tujuan Kualitatif :
Relevan, Dapat Dimengerti, Daya Uji, Netral, Tepat Waktu, Daya Banding, Lengkap.

d. Trueblood Report.
Tujuan Laporan Keuangan Yang Dinyatakan Dalam Trueblood Report.
1.      Tujuan dasar laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi sebagai dasar keputusan ekonomi.
2.      Tujuan Laporan Keuangan adalah untuk melayani pemakai yang memiliki keterbatasan otoritas, kemampuan, atau sumber daya untuk memperoleh informasi dan pemakai yang bergantung pada laporan keuangan sebagai sumber informasi utama tentang aktivitas perusahaan.
3.      Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang berguna bagi investor dan kreditur untuk memprediksi, membandingkan, dan mengevaluasi jumlah, waktu, dan ketidakpastian yang terikat dengan aliran kas potensial.
4.      Tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi pada pemakai untuk memprediksi, membandingkan, dan mengevaluasi kemampuan perusahaan memperoleh earnings.
5.      Tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang berguna dalam menilai kemampuan manajemen untuk menggunakan sumber daya organisasi secara efektif guna mencapai tujuan utama perusahaan.
6.      Tujuan Laporan keuangan adalah menyediakan informasi factual dan penafsiran tentang transaksi dan kejadian lain yang berguna untuk memprediksi, membandingkan dan mengevaluasi earnings power perusahaan.  Asumsi0asumsi dasar yang mendasari interpretasi, evaluasi, prediksi atau estimasi suatu persoalan harus diungkapkan.
7.      Tujuannya adalah menyediakan laporan posisi keuangan yang berguna untuk memprediksi, membandingkan dan mengevaluasi earning perusahaan.
8.      Tujuannya untuk menyediakan laporan earning periodic yang berguna untuk memprediksi, membandingkan, dan mengevaluasi earning power perusahaan.
9.      Tujuannya untuk menyediakan laporan aktivitas keuangan  yang berguna untuk memprediksi, membandingkan, dan mengevaluasi earning power perusahaan. 
10. Tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang berguna untuk proses prediksi.
11. Tujuan laporan keuangan adalah untuk pemerintah dan organisasi nirlaba adalah menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi keefktifan manajemen sumber daya dalam mencapai tujuan organisasi terutama bersifat non moneter.
12. Tujuan laporan keuangan adalah untuk melaporkan aktivitas-aktivitas perusahaan yang mempengaruhi komunikasi yang mana dapat ditentukan dan dijelaskan atau diukur dan penting bagi perusahaan dalam lingkungan sosialnya.

Trueblood Report menyebutkan tujuh karateristik kualitatif pelaporan :
Relevansi dan Materialitas, Bentuk dan Substansi, Reliabilitas, Bebas dari Bias, Dapat Dibandingkan, Konsistensi, Dapat Dipahami.

2. POSTULAT-POSTULAT AKUNTANSI
Postulat akuntansi adalah pernyataan yang tidak memerlukan pembuktian atau aksioma, berterima umum berdasarkan kesesuaiannya dengan tujuan laporan keuangan, menggambarkan lingkungan akuntansi, politik, sosiologi, dan hokum tempat akuntansi beroperasi.
a. Postulat Entitas
Postulat entitas mengatakan bahwa setiap perusahaan merupakan unit akuntansi yang terpisah dan berbeda dari pemiliknya dan perusahaan lain.
  • Postulat entitas menurunkan bidang perhatian akuntan dan membatasi jumlah objek, peristiwa dan atribut peristiwa yang harus dimasukkan dalam laporan keuangan.
  • Entitas akuntansi adalah mendefinisikan sebagai unit ekonomi yang bertanggung jawab atas aktivitas ekonomi dan pengendalian administrative atas unit.
  • Entitas akuntansi juga dapat diartikan dalam kerangka kepentingan ekonomi berbagai pemakai.

Implikasinya :
  • Dibedakan anatar transaksi bisnis dan induvidu
  • Mengakui tanggung jawab pelayanan manajemne pada pemegang saham.
  • Pengetrapan segmen perusahaan (seperti) divisi atau beberapa perusahaan seperti konsolidasi perusahaan yang saling terkait)
  • Akuntansi sumber daya manusia, sosio ekonomi, kos modal akan semakin mudah masuk dalam laporan keuangan.

b. Postulat Kelangsungan Usaha
Postulat Kelangsungan Usaha atau postulat kontinuitas, menyatakan bahwa entitas akuntansi akan terus beroperasi untuk melaksanakan proyek, komitmen, dan aktivitas yang sedang berjalan.
Implikasinya :
  • Jika entitas memiliki kehidupan yang terbatas, maka laporan yang sesuai akan akan menspesifikasi data terminal dan sifat likuidasi.
  • Menjustifikasi penilaian asset dengan dasar non likuidasi dan menyediakan dasar untuk akuntansi depresiasi
  • Harapan tentang manfaat di masa mendatang mendorong manajer untuk melihat ke depan dan memotivasi investor untuk menanamkan modalnya ke perusahaan.

c. Postulat Unit Pengukur
Postulat unit pengukur menyatakan bahwa akuntansi adalah pengukuran dan proses mengkomunikasikan aktivitas perusahaan yang dapat diukur dalam satuan moneter.
Implikasinya
  • Akuntansi terbatas untuk memprediksi informasi yang dinyatakan dalam satuan moneter, tidak mencatat dan mengkomunikasikan informasi lain yang relevan namun bersifat non moneter
  • Postulat unit mengukur menganggap bahwa daya beli uang adalah stabil sepanjang waktu atau perubahannya tidak signifikan.

d. Postulat Periode Akuntansi
Laporan keuangan yang menggambarkan perubahan dalam kesejateraan perusahaan seharusnya diungkapkan secara periodic.
Implikasinya :
  • Panjangnya periode waktu dapat bervariasi, tetapi hokum pajak Penghasilan yang mensyaratkan penentuan income dengan dasar tahunan, dan praktik bisnis tradisional menggunakan periode normal satu tahun.
  • Penggunaan akrual dan tangguhan dalam pembuatan posisi keuangan perusahaan 

3. KONSEP-KONSEP TEORITIS AKUNTANSI
Konsep teori akuntansi adalah pernyataan yang tidak memerlukan pembuktian atau aksioma, juga berterima umum berdasrkan ksesuainnya dengan tujuan laporan keuangan, yang menggambarkan sifat entitas akuntansi yang beroperasi dalam ekonomi bebas yang dikarakteritikan oleh kepemilikan pribadi atas kekayaan. 
a. Teori Propriatery/Kepemilikan. Menurut teori propriatery, entitas sebagai “agen perwakilan atau susunan melalui wirausahawan individual atas  pengoperasian pemegang saham.” Tujuan utama teori propriteray adalah untuk menetukan dan menganalisa kekayaan bersih pemilik, dengan persamaan akuntansi :
Asset – Utang = Ekuitas Pemilik

Implikasinya :
  • Asset dinilai dan neraca disusun untuk mengukur perubahan dalam keperntingan atau kesejahteraan pemilik.
  • Revenue dan expense dianggap meningkat atau menurun secara berturut-turut dalam kepemilikam yang bukan berasal dari investasi pemilik atau penatikan modal jadi pemilik.
  • Bunga, pajak income sebagai expense, laba per lembar saham, dividen perlembar saham.
  • Hanya pemegang saham biasa yang merupakan bagian dari kelompok Proprietary dan pemegang saham preferred tidak termasuk didalamnya (dividen preferen dikurangkan ketika menghitung earning pemilik)
  • Saham biasa dan saham preferen termasuk dalam ekuitas pemilik (deviden tidak dikurangkan ketika menghitung erning pemilik)

b. Teori Entitas Teori entitas memandang entitas sebagai sesuatu yang terpisah dan berbeda dari pihak yang menyediakan modal pada entitas.  Unit bisnis bukan pemilik, merupakan pusat kepentingan akuntansi.  Unit bisnis memiliki sumber daya perusahaan dan bertanggung jawab terhadap pemilik maupun kreditor.  Menurut teori ini, persamaan akuntansinya adalah :
                                     Asset = Ekuitas
Asset = Utang + Ekuitas Pemegang Saham
  • Asset adalah pertumbuhan hak perusahaan
  • Ekuitas adalah sumber asset dan terdiri dari utang dan ekuitas pemegang saham.

Implikasinya :
  • Baik kreditor dan pemegang saham saham adalah pemilik ekuitas, meskipun mereka memiliki hak yang berbeda terkait dengan income, control resiko, dan likuidasi.
  • Akuntabilitas kepada pemilik ekuitas dicapai dengan mengukur kinerja operasi dann keuangan perusahaan.
  • Income merupakan peningkatan dalam ekuitas pemegang saham setelah klaim pemilik ekuitas lainnya (sebagai contoh bunga jangka panjang, dan pajak penghasilan ) telah terpenuhi
  • Teori entitas menyetujui pengadopsian penilaian sedian LIFO ketimbang FIFO, karena penilaian LIFO dapat mencapai penentuan income yang lebih baik.
  • Definisi umum revenue sebagai produk perusahaan dan expenses sebagai barang dan jasa yang dikonsumsi untuk mendapatkan revenue.

c. Teori Dana. Dalam teori dana, dasar akuntansi bukan teori proprietary maupun teori entitas, tetapi kelompok asset dan kewajiban dan restriksi terkait, disebut dana, yang mengatur penggunaan asset.  Jadi, teori dana memandang unit bisnis terdiri atas sumber daya .  Persamaan akuntansinya adalah :
Asset = Restriksi Asset

Unit akuntansi didefinisi dalam pengertian asset dan penggunaan asset yang telah dilakukan.  Kewajiban menunjukkan serangkaian rertriksi hokum dan ekonomi pada penggunaan asset.  Sehingga teori dana berorientasi asset dalam pengertian bahwa focus utamanya adalah pada administrasi dan penggunaan asset secara memadai.  Laporan sumber dan penggunaan dana bukan neraca atau laporan keuangan merupakan tujuan pelaporan keuangan.
Teori dana terutama berguna untuk pemerintah dan organisasi nirlaba, rumah sakit, universitas, Unit kota, dan pemerinthan.
Dana adalah entitas fiscal dan akuntansi independent dengan pencatatan serangkaian akunkas dan atau sumber daya lain yang berimbang bersama dengan utang, kewajiban, cadangan, dan ekuitas yang terpisah untuk tujuan melakukan aktivitas tertentu atau mencapai tujuan tertentu sesuai dengan aturan khusus, restriksi atau limitasi.
Teori dana juga relevan untuk organisasi berorientasi laba, yang menggunkan dana untuk aktivitas yang bermacam-macam seperti dana pelunasan (sinking funds), akuntansi untuk kebangkrutan dan perkebunan dan perwalian, akuntansi cabang atau divisional, pemisahan asset dalam asset lancer atau tetap, dan konsolidasi.

4. PRINSIP-PRINSIP AKUNTANSI
Prinsip akuntansi adalah aturan keputusan umum, yang diturnkan baik dari tujuan dan konsep teoritis akuntansi, yang mengatur pengembangan teknik-teknik akuntansi.  Untuk lebih memahami dan membandingkan apa sebenarnya yang dapat dimasukkan sebagai prinsip akuntansi, berikut ini dikemukakan aeperangkat konsep-konsep dasar menurut beberapa sumber :
a. Prinsip Akuntansi menurut Prinsip Akuntansi 1984.
  1. Kesatuan Akuntansi
  2. Kesinambungan
  3. Periode Akuntansi
  4. Pengukuran Dalam Nilai Uang
  5. Harga Pertukaran

b. Prinsip Akuntansi menurut APB  Statement No.4
  1. Kesatuan usaha sebagai focus akuntansi (accounting entity)
  2. Kontinuitas Usaha (Going Concern)
  3. Pengukuran aktiva dan Passiva unit Usaha (measurement of economic resources and obligations)
  4. Laporan berdasarkan periode waktu (Time Periode)
  5. Pengukuran dalam satuan moneter (measurement in term of money)
  6. Asas himpun/akrual (accrual)
  7. Harga Pertukaran (jual beli) (exchange price)
  8. Angka/jumlah rupiah pendekatan (Approximation)
  9. Kebijaksanaan (judgement)
  10. Informasi Keuangan Umum (General Purpose Finansial Information)
  11. Laporan Keuangan Saling Berkaitan (Fundamentally Related Financial Statements)
  12. Mementingkan Substansi Daripada Bentuk luar/Yuridis (Substance Over Form)
  13. Materialitas (Materiality)

Konsep Dasar Menurut Paul Grady
  • Pengakuan hak milik pribadi (ASociety and Government structure honoting private property right)
  • Kesatuan Usaha yang berdiri sendiri (spesifik businee entities)
  • Kontinuitas Usaha (Going Concern)
  • Satuan Uang

c. Prinsip Kos
APB Statement No.4 mendefinisikan Kos adalah jumlah, diukur dalam uang, kas uang dibelanjakan atau property lain yang ditransfer, penerbitan modal saham, jasa yang diberikan atau uang yang terjadi, sebagai imbalan atas barang atau jasa yang diterima, atau seharusnya diterima.
Kos dapat diklasifikasikan sebagai belum terpakai (unexpired) adalah asset yang dapat digunakan untuk menghasilkan revenue di masa mendatang dan telah terpakai (experid) adalah pengurang revebue atau dibenbankan sebagai pengurang laba ditahan.
Prinsip kos dijustifikasi oleh postulat kelangsungan usaha yang mengasumsikan bahwa entitas akan meneruskan aktivitasnya secara tidak terbatas, sehingga mengelimiasi perlunya menggunakan nilai sekarang atau nilai likuiditas untuk penilaian asset,
Prinsip kos lemah pada validitas postulat unit pengukur, yang mengasumsikan bahwa daya beli dolar adalah stabil, merupakan keterbatasan utama untuk menerapkan prinsip kos, pada kenyataannya adanya inflasi.

d. Prinsip Revenue
Prinsip Revenue Menspesifikasi :
  • Sifat Komponen-komponen revenue
  • Pengukuran Revenue
  • Waktu Pengukuran Revenue

Sifat dan Komponen-Komponen Revenue
1. Revenue Diintrepretasikan sebagai :
Aliran masuk asset bersih yang berasal dari penjualan barang atau jasa.
Aliran keluar barang atau jasa dari perusahaan kepada pelanggan
Produk perusahaan yang dihasilkan dan penciptaan barang atau jasa oleh perusahaan selama periode waktu tertentu.
Terdapat dua pandangan tentang komponen revenue :
  1. Pandangan revenue yang komprehensif adalah semua perubahan dalam asset bersih yang berasal dari aktivitas penghasil revenue dan keuntungan atau kerugian yang berasal dari penjualan asset tetap dan investasi.
  2. Pandangan yang lebih sempit tentang revenue hanya memasukkan hasil yang berasal dari aktivitas penghasil revenue dan tidak memasukkan Penghasilan investasi dan keuntungan dan kerugian dari pelepasan asset tetap.

2. Pengukuran Revenue
Revenue diukur dalam pengertian nilai pertukaran produk atau jasa dalam sebuah transaksi yang lugas.  Terdapat dua interpretasi revenue yang muncul dari konsep revenue ini :
  • Potongan tunai dan berbagai pengurangan adalam harga tetap, seperti kerugian piutang yang tidak tertagih memerlukan penyesuaian untuk menghitung ekuivalen kas bersih yang sesungguhnya atau nilai diskonto sekarang atau klaim uang dan secara konsekuen harus dikurangkan ketika harus menghitung revenue.
  • Untuk transaksi nonkas, niali pertukaran sama dengan nilai pasar yang wajar barang/jasa yang diberikan atau yang diterima, mana yang lebih mudah dan jelas dalam menghitungnya.

3. Waktu Pengakuan Revenue
  • Umumnya diakui bahwa revenue dan income yang diperoleh dalam semua tahap siklus operasi (yaitu, selama penerimaan order, produksi, penjualan dan penagihan).
  • Akuntan menggunakan prinsip realisasi untuk memilih sebuah peristiwa kritis dalam siklus untuk waktu pengakuan revenue dan income.
  • Realisasi dalam perubahan dalam asset atau uatang secara memadai telah menjadi tertentu dan bertujuan untuk membenarkan pengakuan dalam akun.

4. Revenue secara umum diakui selama produksi dalam situasi berikut ini :
  1. Revenue berupa sewa, bunga, dan komisi diakui ketiak telah diperoleh (earnred).
  2. Pemberian jasa individual atau kelompok professional atau jasa yang berupa mungkin lebih baik menggunakan dasar akrual.
  3. Revenue dari kontrak jangka panjang diakui dengan dasar kemajuan konstruksi atau persentase penyelesaian.
  4. Revenue atas “cost plus fixed cobtracts lebih baik diakui dengan dasar akrual.
  5. Perubahan asset karena pertumbuhan (accretion) akan menimbulkan peningkatan revenue sebagai contoh, ketika umur minuman kerasa atau anggur, tanaman kayu, atau ternak menjadi dewasa, revenue akresi didasarkan pada penilaian sedian yang sebanding, meskipun belum ada transaksi.

5. Dasar peristiwa kritis
Untuk pengakuan revenue dipicu oleh peristiwa krusil dalam silklus operasi.  Peristiwa tersebut mungkin adalah :   
  • Saat terjadinya penjualan
  • Penyelesaian Produksi
  • Penerimaan pembayaran untuk penjualan berikutnya

6. Dasar penjualan untuk pengakun revenue dapat dibenarkan karena :
  • Harga produksi diketahui dengn pasti
  • Pertukaran telah diakhiri dengan pengirman barang, sehingga diperoleh pengetahuan yang objektif akan kos yang tejadi
  • Dalam artian realisasi, penjualan merupakan peristiwa krusial.

7. Dasar penyelesaian produksi untuk pengakuan revenue dapat dibenarkan ketika pasar stabil dan harga stabil tersedia untuk (komoditi standar) logam mulia, emas, perak

e Prinsip Penandingan
Prinsip penandingan mengatakan bahwa expense (beban) harus diakui pada periode yang sama dengan revenue, yaitu revenue diakui dalam periode tertentu sesuai dengan prinsip revenue, dan beban yang terkait kemudian diakui.
Hubungan antara revenue dan expense tergantung pada satu dari empat criteria :
  1. Penandingan langsung kos yang telah terpakai dengan peridenya (sebagai contoh, gaji direktur untuk periode tertentu).
  2. Alokasi kos selama periode yang mendapatkan manfaat (sebagai contoh, depresiasi)
  3. Menjadikan expense semua kos lain dalam periode terjadinya, kecuali jika dapat ditunjukkan bahwa masih memiliki manfaat di masa mendatang.

Kos yang belum terserap (yaitu, asset) yang tidak memenuhi salah satu dari empat criteria untuk menjadikannya expense pada periode berjalan dapat dibebankan pada periode mendatang dan dapat diklasifikasikan dalam kategori yang berbeda sesuai penggunaan yang dalam penerapan prinsip penandingan.

f. Prinsip Objektivitas
Kegunaan informasi keuangan tergantung pada tingkat realibilitas prosedur pengukuran yang digunakan.  Karena menjamin reliabilitas maksimum adalah salat sulit, akuntan, telah menggunakan prinsip objektivitas untuk menjustifikasi pemilihan prosedur pengukuran yang digunakan.  Prinsip objektivitas, bagaimanapun, yang menjadi subjek interpretasi yang berbeda :
  1. Pengukuran objektivitas merupakan ukuran yang tidak bersifat personel dalam pengertian bebas dan bias personel pengukurnya.
  2. Pengukuran objektivitas merupakan pengukuran variable dalam pengertian bahwa pengukuran didasarkan pada bukti.
  3. Pengukuran objektivitas merupakan hasil dari dari konsensus diantara kelompok pengamat atau pengukur tertentu.
  4. Ukuran penyebaran atau distribusi pengukuran digunakan sebagai indicator tingkat objectivitas suatu system pengukuran termaksud.

g. Prinsip Konsistensi
Prinsip konsistensi menyatakan bahwa peristiwa ekonomi yang serupa seharusnya dicatat dan dilaporkan secara konsisten dari period ke periode.  Prinsip ini berimplikasi bahwa prosedur akuntansi yang semua akan diterapkan dalam item serupa sepanjang waktu.
Prinsip konsistensi tidak menghalangi perusahaan mengubah prosedur akuntansi ketika hal tersebut dapat dibenarkan dengan perubahan keadaan, atau jika prosedur alternative lebih baik.  Menurut APB opinion No. 20 perubahan yang dapat menjustifikasi perubahan prosedur adalah :
  1. Perubahan dalam prinsip akuntansi
  2. Perubahan dalam estimasi akuntansi
  3. Perubahan dalam entitas pelaporan

Perubahan ini harus terefleksi dalam akun dan dilaporakan dalam laporan keuangan secara retroaktif untuk perubahan dalam entitas akuntansi, secara prospektif untuk perubahan dalam estimasi akuntansi, dan secara umum dan segera untuk perubahan dalam prinsip akuntansi.

h. Prinsip Pengungkapan Penuh
Terdapat consensus umum dalam terdapat pengungkapan data akuntansi yang penuh (full), wajar (fair), cukup (adequate).  Pengungkapan penuh mensyaratkan bahwa laporan keuangan didesaian dan dibuat untuk menggambarkan secara akurat peristiwa ekonomi yang telah mempengaruhi perusahaan untuk suatu periode dan memuat informasi yang memadai untuk membuat laporan keuangan dan tidak menyesatkan bagi rata-rata investor.  Beberapa hal yang menjadi perhatian pengungkapan penuh :
  • Rincian tentang kebijakan dan metode akuntansi, terutama bila diperlukan pertimbangan dalam penerapan metode akuntansi.
  • Informasi tambahan untuk membantu analisa investasi atau untuk mengindikasikan hak berbagai pihak yang memiliki klaim atas pelaporan entitas.
  • Perubahan dari tahun sebelumnya dalam kebijakan dan metode akuntansi  yang digunakan dan dampak perubahan tersebut.
  • Aset, Utang, Kos, dan Revenue yang timbul dari transaksi dengan pihak lain yang memiliki kepentingan pengendalian atau dengan direktur atau karyawan yang memiliki hubungan khusus dalam entitas pelaporan.
  • Aset, Utang, dan Komitmen Bersyarat
  • Transaksi keuangan atau transaksi operasi lainnya yang terjadi setelah tanggal neraca yang memiliki dampak material terhadap posisi keuangan entitas.

i. Prinsip Konservatisme
Prinsip Konservatisme menyatakan bahwa ketika memilih diantara dua atau lebih teknik akuntansi yang dapat diterima, maka preferensinya adalah memilih yang paling kecil dampaknya terhadap ekuitas pemegang saham.

j. Prinsip Materialitas
Prinsip materialitas menyatakan bahwa transaksi dan peristiwa yang tidak memiliki dampak ekonomi signifikan dapat diatasi dengan cara yang paling tepat, apakah transaksi dan peristiwa tersebut sesuai dengan prinsip berterima umum atau tidak, dan tidak perlu diungkapkan.
Suatu jumlah material tidak semata-mata, karena alasan besarnya jumlah, factor-factor lain meliputi serangkaian hal-hal berikut ini harus dipertimbangkan dalam membuat keputusan tentang materilitas. Antara lain :
Sifat Item, apakah item : 
  • Merupakan factor masukkan dalam penentuan net income
  • Tidak biasa atau luar biasa
  • Peristiwa atau kondisi bersyarat.
  • Dapat ditentukan berdasarkan fakta dan keadaan yang ada
  • Diminta oleh undang-undang atau regulasi.

Jumlah item itu sendiri, dalam hubungannya dengan :
  • Laporsn keuangan secara keseluruhan.
  • Total akun tempat item tersebut terbentuk, atau seharusnya terbentuk sebagai bagiuannya,
  • Item item terkait
  • Jumlah yang terkait dalam tahun sebelumnya atau jumlah yang diharapakan dalam tahun-tahun mendatang.

k. Prinsip Keseragaman dan Komparabilitas
Prinsip keseragaman merujuk pada penggunaan prosedur yang sama oleh perusahaan yang berbeda.  Tujuan yang diinginkan adalah mencapai komparabilitas laporan keuangan dengan mengurangi keanekaragaman yang tercipta karena penggunaan prosedur akuntansi yang berbeda oleh perusahaan yang berbeda.
Pendukung utama prinsip keseragaman mengklaim bahwa prinsip tersebut akan :
  1. Mengurangi perbedaan penggunaan prosedur akuntansi dan ketidakcukupan praktik akuntansi
  2. Memungkinkan perbandingan yang berarti bagi pengguna laporan keuangan.
  3. Memperbaiki kepercayaan pengguna para laporan keuangan.
  4. Mendorong intervensi pemerintah dan regulasi praktik akuntansi


Pendukung utama fleksibilitas mengklaim bahwa :
  1. Penggunaan prosedur akuntansi yang seragam untuk menunjukkan item yang sama yang terjadi dalam berbagai kasus menimbulkan risiko penyembunyian perbedaan-perbedaan penting diantara kasus tersebut.
  2. Komparbilitas merupakan tujuan yang tidak praktis, hal tersebut tidak dapat dicapai dengan mengadopsi aturan-aturan perusahaan yang tidak menggunakan pencatatan yang memadai untuk situasi factual yang berbeda.
  3. Perbedaan dalam keadaan”atau “ variable-variabel keadaan meminta perlakuan yang berbeda, sehinggga pelaporan perusahaan dapat merespon keaadaan tempat transaksi dan peristiwa terjadi     

5. Teknik Akuntansi
Teknik akuntansi adalah adalah aturan spesifik yang diturunkan dari prinsip akuntansi memperlakukan transaksi atau peristiwa tertentu yang dihadapi oleh entitas akuntansi. Akuntansi dipraktikan dalam suatu kerangka yang implicit.  Rerangka ini dikenal sebagai Prinsip Akuntansi Berterima Umum (PABU), istilah ini sebenarnya digunakan untuk menunjuk seperangkat pedoman resmi dan kebiasaan-kebiasaan dunia usaha yang dianggap berlaku dalam lingkungan (Negara) dan waktu tertentu.  Soewarjono dalam bukunya teori akuntansi berpendapat prinsip akuntansi berterima umum cukup tepat sebagai pedanan generally accepted accounting principles (GAAP).  Di Amerika Istilah generally accepted accounting principle timbul dan digunakan melalui proses atau riwayat yang bertahap khususnya tentang pemakaian kata generally accepted, karena itu istilah GAAP tersebut sebenarnya mempunyai konotasi sebagai prinsip akuntansi berterima umum di Amerika dan bukannya istilah yang generic (berlaku universal) meskipin selalu ditulis dengan huruf kecil.  Di Amerika yang dimaksud dengan GAAP adalah konsep-konsep, prinsip-prinsip dan praktik-praktik akuntansi tertentu yang secara otoritatif di dukung berlakunya sebagai suatu pedoman (mempunyai substansi authoritative support) walaupun tiap jenis prinsip atau praktik tersebut mempunyai tingkat keotoritatifan yang berbed.  Struktur GAAP tersebut terdiri dari beberapa tingkat (level). Makin ke atas dan ke kanan tingkat otoritatifnya makin lemah.  Berikut ini diuraikan secara ringkas ini tiap tingkat bangunan GAAP tersebut :
  • Foundation (fondasi) yang berupa konsep dasar dan prinsip-prinsip umum (akuntansi) seperti kelangsungan hidup, substansi mengungguli bentuk, netralitas, dasar akrual, konservatisme, materialitas).

  • Tingkat Pertama (first floor).  Tingkat ini berisi pengumuman atau ketentan resmi yang diterbitkan oleh badan otoritatif.  Pengumuman resmi ini biasanya berupa pernyataan standar, interpretasi, dan suplemen. Otoritas penerbitan ini kuat karena ketentuanyang termuat dalam pengumuman resmi tersebut telah dirancang dan dibahas melalui prose dan prosedur formal sebelum diterbitkan. Prosedur yang biasanya dilakukan oleh badan yang berwenang ini adalah:
  1. Membentuk komisi yang terdiri atas beberapa ahli yang dianggap dapat mewakili kepentingan pihak yang akan menggunakan pedoman yang akan disusun.
  2. Komisi mempelajari sumber-sumber acuan dan literature tentang subjek yang akan ditentukan dan melakukan riset lapangan .
  3. Menerbitkan notulen atau memorandum diskusi tentang permasalahan yang timbul dan alternative pemecahannya untuk mendapatkan tanggapan dari masyarakat.
  4. Melakukan dengar pendapat umum
  5. Berdasarkan komentar dan pendapat yang dikumpulkan dalam langkah 3 dan 4, komite akan membuat rancangan pernyataan resmi (disebut dengan exposure draf) dan menyebarluaskan rancanagan tersebut untuk mendapatkan tanggapan atas komentar public. 

  • Tingkat kedua (second floor).  Kalau suatu perlakuan akuntansi tidak diatur dalam ketentuan resmi yang diterbitkan dalam tingkat pertama, sumber acuan untuk menentukan perlakuan akuntansi tertentu yang dapat diambilkan dari tingkat kedua atau tingkat berikutnya.  Kalau terdapat perbedaan atau konflik perlakuan maka harus dipertimbangkan dan dipilih perlakuan yang menggambarkan substansi transaksi yang lebih baik. Penerbitan-penerbitan pada tingkat kedua ini memberi pedoman akuntansi yang lebih sempit aplikasinya karena hanya menyangkut industri tertentu dan biasanya bersifat agak teknis dan procedural.

  • Tingkat ketiga (third Floor). Tingkat ini berisi publikasi badan resmi yang berwenang yang tidak termasuk dalam kategori resmi karena tidak disusun berdasarkan prosedur resmi seperti penerbitan pada tingkat pertama.  Penerbitan ini lebih merupakan petunjuk aplikasi ketentuan yang diatur dalam penerbitan resmi dalam tingkat pertama yang berupa pernyataan standar atau interpretasi.

  • Tingkat keempat (fourth floor).  Kalau perlakuan akuntansi tertentu tidak dapat dicarikan acuannya dalam ketiga tingkatan yang ada di bawahnya maka sumber-sumber atau literature akuntnasi lainnya dapat dignakan sebagai acuan .      

2 komentar:

Anonim mengatakan...

desi

cukup bagus

MifthaFaridz Blog mengatakan...

good resume